Video Video

Hot! Sritex – Antara Kedisiplinan, Kekuatan, dan Patriotisme

Menengok Pabrik Seragam Militer Dunia di Kota Solo

Di balik kesuksesan PT Sritex, perusahaan ini pernah melewati jalanan berkerikil. Terutama saat krisis ekonomi pasca kerusuhan Mei 1998. Namun dengan ketekunan pengelolanya Sritex justru mampu bertahan di kala krisis. Bahkan, pada 2011 ini Sritex mendapat kepercayaan dari Islamic Developmen Bank (IDB) guna melakukan ekspansi.

Memasuki areal pabrik Sritex, sekilas pandangan kita akan ditunjukkan pada sebuah areal pabrik yang sangat luas, bersih, tertata rapi, serta teratur. Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 100 hektar ini terus berkembang pesat tidak hanya melayani pasar dalam negeri tetapi juga menembus pasar dunia dengan produk-produk yang berkualitas.

Sebagai sebuah industri yang memproduksi produk-produk berkelas internasional, Sritex menerapkan disiplin tinggi di semua lini. Dari sinilah salah satu kunci sukses Sritex seperti sekarang ini. Kedisiplinan itu sudah dirasakan begitu masuk ke lokasi pabrik. Semua tamu yang datang harus melapor, kemudian mobil tanpa terkecuali, harus menjalani pemeriksaan oleh Satpam. “Mobil saya dan seluruh keluarga saya, juga mengalami pemeriksaan yang sama. Jadi untuk hal ini tidak ada perbedaan penanganan,” ungkap Lukminto, pendiri Sritex.

Sritex merupakan perusahaan yang dibangun dan dirintis dari bawah. Secara evolusioner, perusahaan ini menjadi besar, dan mampu menembus pasar internasional. Bahkan, Sritex saat ini menjadi perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Lukminto mengatakan,“Saya sendiri tidak pernah membayangkan PT Sritex ini sebesar seperti sekarang. Hanya dengan kerja keras, disiplin dan jujur serta menjaga nama baik itu sulit dan tidak ada nilainya. Oleh karena itu, saya tidak mau berspekulasi dalam bisnis. Apalagi mengandung unsur judi. Tipu-menipu, merugikan, menyakiti dan mengecewakan orang lain. Kita jangan sampai bisnis seperti itu, karena tidak akan pernah maju. Kita jalan yang benar, jujur, kerja keras dan disiplin saja sudah menghasilkan rezeki yang berkah. Terus mau apalagi?”

Mulai dari pedagang kain di pasar Klewer, sampai kemudian hijrah ke Sukoharjo, mendirikan pabrik di sana. Untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur pun sedikit demi sedikit. Mulai dari Kios bernomor 12-13  di pasar Klewer, sampai dengan perusahaan dengan areal seluas 100 hektar di Sukoharjo. Mulai dari membeli mesin bekas, sampai dengan mesin berteknologi tinggi. Di awal berdirinya pabrik, istri Lukminto pernah menyebutnya sebagai pengumpul besi tua. Karena Lukminto sering membeli mesin-mesin bekas untuk kebutuhan pabrik, sampai-sampai tidak mempunya deposito di bank.

Sritex yang dibangun pada 1972 ini, awalnya hanya memiliki luas 10 hektar. Seiring dengan pertumbuhan perusahaan ini, maka areal pabrik terus mengalami perluasan. Bahkan, kini manajemen Sritex juga tengah melebarkan pabrik ke sisi timur berseberangan dengan pabrik yang lama. Mengelola pabrik dengan karyawan lebih dari 16.000 orang dan menghasilkan produk-produk yang berkualitas, tentu bukanlah pekara yang mudah. “Alhamdulillah saya merasa sangat bersyukur karena sukses dalam merintis, membangun, mengembangkan, dan mengelola Sritex seperti saat ini. Kesuksesan ini merupakan buah dari kerja keras dan kedisiplinan yang saya lakukan bersama seluruh karyawan Sritex,” tandas Lukminto.

Untuk memberikan motivasi dan menciptakan kedisplinan kepada seluruh karyawan, manajemen Sritex tidak hanya menerapkan aturan perusahaan secara disiplin tetapi juga memasang slogan-slogan di sejumlah lokasi pabrik. Kalau kita masuk ke areal pabrik, akan dijumpai tulisan-tulisan penggugah motivasi dan kedisiplinan. Tulisan-tulisan itu ada yang dibuat di dinding pabrik, atau dalam bentuk spanduk. Misalnya tulisan “Orang malas selalu cari alasan, orang pintar selalu cari jalan keluar”,“Buanglah Sampah Pada Tempatnya”,“Jaga Kebersihan”, dan lain sebagainya.

Kedisiplinan dan keteraturan bekerja diperlihatkan para karyawan. Setiap jam masuk kerja, maka rombongan ribuan karyawan terlihat rapi memasuki areal pabrik. Mereka berjalan tertib di jalur khusus yang dibuatkan untuk karyawan. Semua wajib memakai seragam lengkap dengan topi, sesuai dengan departemen tempat bekerja masing- masing.

Topi warna kuning untuk karyawan di bagian Garment, sedang warna hijau karyawan di bagian Spinning, warna abu-abu untuk karyawan kantor, warna biru tua untuk karyawan di bagian Finishing, warna biru muda untuk karyawan di bagian Weaving, dan merah tua untuk di bagian pemeliharaan mesin dan gedung.

Di semua bagian pabrik terlihat bersih dan tertata dengan rapi. Tak terkecuali di bagian produksi. Lukminto sangat perhatian dan kebersihan seluruh areal pabrik, karena sangat terkait erat dengan kesehatan setiap karyawan di tempat kerja masing-masing. Selain itu, Islam juga mengajarkan, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. “Saya ingin menerapkan nilai-nilai agama Islam dalam aktivitas di Sritex,” Lukminto menjelaskan.

Kepedulian Sosial Bagi  Masyarakat

Sritex selalu mengutamakan kegiatan-kegiatan kepedulian sosial, atau yang lebih dikenal sebagai dalam Corporate Social Responsibility (CSR). Kegiatan-kegiatan CSR di PT. Sritex dibagi menjadi dua kategori, CSR lingkungan dan CSR masyarakat.

Dalam CSR lingkungan, Sritex telah mengembangkan teknologi pengelolaan limbah. Perlindungan terhadap ekologi adalah kunci utama dibalik inovasi Sritex dalam mengelola fasilitas pengolahan limbah. Sritex terus mengembangkan inovasi di bidang teknologi pengolahan limbah untuk mendukung pengolahan sisa limbah sesuai dengan peraturan internasional mengenai lingkungan. Unit Pengelolaan Limbah (UPL) Sritex telah mendapat sertifikat Biru dari Departemen Lingkungan Hidup. Jadi tak ada lagi pembuangan limbah ke sungai.

CSR masyarakat, Sritex memberikan begitu banyak kontribusi bagi peningkatan kualitas hidup dan ekonomi masyarakat Sukoharjo dan sekitarnya. Hal tersebut dilakukan dengan cara turut mendukung adanya penyediaan fasilitas umum seperti sistem irigasi, listrik, jalan, sekolah, dan lain sebagainya.

Presiden direktur PT Sritex, Iwan Setiawan mengatakan, “Penyerahan bantuan mobil untuk PMI  ini merupakan kegiatan CSR PT. Sritex. Harapan kami, bantuan ini  bisa bermanfaat. Di samping itu, donor darah yang diikuti 1.500 karyawan Sritex, diharapkan bisa menambah stok kebutuhan PMI untuk menolong nyawa seseorang. ”Tradisi inilah yang sudah lama ditanamkan oleh pendiri PT. Sritex.

Lukminto memang memiliki perhatian besar terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan khususnya di Solo, Sukohardjo dan sekitarnya. Jiwa sosialnya itu bahkan sudah tumbuh dan berkembang ketika dia masih anak-anak. Dia senang berbagi kepada teman-temannya semasa kecil. Untuk mengenang masa kecilnya, Ia telah mendirikan sebuah Yayasan Kematian yang bernama “Budi Luhur” di kampung halamannya Kertosono, Jawa Timur. Yayasan ini masih bagus dan berfungsi sampai sekarang.

Kinerja perusahaan yang gemilang bukan hanya ditunjukkan oleh mendunianya produk Sritex. Beberapa indikator keuangan terus meningkat. Misalnya, total aset Sritex tahun 2009 mencapai hampir 2 triliun rupiah. Angka tersebut meningkat 20 persen ketimbang tahun 2008, sekitar 1,6 triliun rupiah. Penjualan bersih tahun 2009  mencapai dua setengah triliun.

Sebagai perusahaan padat karya, Sritex telah menyerap sekitar 25.000 karyawan. Belum lagi bisnis ikutan sebagai akibat berdirinya pabrik. Ada kegiatan ekonomi kerakyatan tumbuh di sana, seperti tempat kos, rumah makan dan lain-lain. Untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah, Sritex ikut dalam penyertaan atas 2,469 persen saham pada PT Sarana Surakarta Ventura. Perusahaan ini digagas oleh Gubernur Jawa Tengah.

Di balik kesuksesan tersebut, Sritex pernah melewati jalanan berkerikil. Terutama saat krisis ekonomi pasca kerusuhan Mei 1998. Sritex mengalami kesulitan memperoleh dana dari bank karena banyak Bank yang stop lending. Akibatnya, Sritex tidak bisa melakukan ekspansi atau peremajaan mesin dalam beberapa tahun. Sritex hanya melakukan konsolidasi internal.

Namun dengan efisiensi yang ketat, akhirnya masa itu dapat dilewati dengan baik. Efisiensi menyangkut tenaga kerja, namun tidak sampai melakukan pemutusan hubungan kerja secara massal. Hemat energi terus digalakkan. Dan produksi terus ditingkatkan.

Sejak awal dirintis, pasar utama Sritex adalah pakaian militer. Dari aspek bisnis, pasar ini memiliki keuntungan tersendiri. Pertama, militer tidak mengenal krisis ekonomi. Dalam kondisi krisis ekonomi, militer tetap diperlukan dan personilnya tetap harus menggunakan pakaian seragam. Kedua, instansi militer tidak mengenal bangkrut seperti umumnya perusahaan atau instansi swasta. Kalau militer menjadi customer Sritex, maka ia merupakan captive market dan akan terus menerus memesan (repeat order).

Keterlibatan Sritex dalam me- nangani seragam militer bermula pada tahun 1992. Kala itu Sritex diajak masuk menjadi penyedia logistik ABRI dalam bidang pengadaan seragam prajurit. Ajakan tersebut berasal dari almarhum Jenderal Surono, mantan Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.

Sritex tak menyia-siakan kesempatan tersebut dan segera melakukan sejumlah persiapan, terutama riset di internal. Pengalaman menarik dari proyek logistik ABRI ini, ternyata tidak mudah membuat pakaian tentara. Untuk membikin seragam militer membutuhkan kualitas yang sangat tinggi. Semua diperhitungkan secara matang dan teliti, mulai dari ketahanan asam, ketahanan gesek, dan lainnya. Speknya sangat tinggi.

Membuat seragam militer memang perlu kepekaan bahan baku dari unsur-unsur kimia. Untuk mendukung proyek tersebut, Sritex mendapat dukungan dari Ciba, perusahaan industri kimia dari Swiss. Setelah melalui riset dan serangkaian uji coba, akhirnya Sritex berhasil ditetapkan sebagai penyuplai seragam militer ABRI. ”Butuh riset selama satu tahun, agar Sritex bisa menciptakan seragam militer ABRI. Sritex masuk lewat Badan Perbekalan (Babek) ABRI. Jumlah yang dipesan untuk pertama kalinya sebanyak 20.000 meter,” jelas Pramono.

Meski dari sisi pesanan tidak terlalu besar, tapi keuntungan yang diperoleh dari proyek supplier Babek ABRI ini adalah pengetahuan yang luar biasa, karena perusahaan menjadi tahu bagaimana seluk beluk logistik militer.

Sritex makin serius menggarap seragam-seragam militer. Dan terus mencari tantangan dengan desain-desain baru dari seragam angkatan bersenjata. Salah satu indikator kesuksesan Sritex dalam menggarap seragam militer adalah keberhasilannya memproduksi seragam Kopassus Angkatan Darat ABRI, yang diberi nama “Darah Mengalir”.

Seragam “Darah Mengalir” ini sebenarnya seragam Kopassus saat masih dipegang oleh Sarwo Edhi Wibowo tahun 1960-an. Waktu pembentukan, Kopassus harus mempunyai seragam khusus, maka diberilah nama “Darah Mengalir”. Karena ada motif percikan darah yang mengalir berwarna merah bata. Pada saat itu, Kostrad punya identitas Daun Anggur, Paskhas juga punya. Oleh karena itu, Panglima ABRI menginstruksikan agar seragam militer disamakan, yang kemudian dinamakan Loreng ABRI. Seragam satuan tak boleh lagi.

 

Pada tahun 1990-an, ketika Komandan Kopassus dijabat Agum Gumelar, muncul ide dari Sritex untuk menawarkan pembuatan seragam “Darah Mengalir” yang menjadi kebanggaan Kopassus. Tapi atas persetujuan dari panglima TNI, yang waktu itu dijabat Jenderal Faisal Tanjung. Meski belum ada izin untuk memproduksi “Darah Mengalir”, Sritex mulai melakukan riset dan survei, karena kebetulan mendapat contoh motifnya dari Aslog Kopassus, Sriyanto.

Pada tahun 1994, saat Kopassus dipegang oleh Subagyo HS dan wakilnya Prabowo, motif pakaian “Darah Mengalir” mendapat izin dari Panglima TNI Jenderal Faisal Tanjung untuk diproduksi. Tapi, dari hasil survei dan riset tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa pembuatan “Darah Mengalir” sangat susah. Terutama adalah di bagian warnanya. Karena ada seperti warna darah yang mengalir.

Kegagalan riset motif “Darah Mengalir” itu terjadi sampai 20 kali lebih. Terutama di warna darah keringnya. Setelah disetujui dan berhasil mendapat spesifikasi maka selanjutnya diproduksi. Seragam itu pertama kali dipakai pada saat pembaretan prajurit di Cilacap.

Keberhasilan Sritex memproduksi “Darah Mengalir” ini  makin meningkatkan pengalaman dan pengetahuan Sritex dalam memproduksi seragam militer. Bahkan “Darah Mengalir” menjadi spesialisasi Sritex, karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Kalau TNI  memesan ke pabrik lain untuk memproduksi “Darah Mengalir”, bisa dipastikan akan menolak karena tingkat kesulitannya. Jadi, untuk produk “Darah Mengalir” pasti ke Sritex.